Senin, 30 Januari 2017

ANALISIS ARTIKEL
Judul : Komunitas Bulu Babi (Echonoidea) Di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai Dan Pulau Setan Sumatera Barat. Oleh Indra Junaidi Zakaria
  •  Penelitian mengenai jumlah bulu babi (Echonoidea) yang terdapat di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai Dan Pulau Setan, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.
  • Penelitian dilakukan pada bulan April sampai bulan Oktober 2007.
  • Pada artikel diketahui sampai saat itu penelitian mengenai bulu babi (Echonoidea) masih sangat kurang.
  • Di Provinsi Sumatera Barat bulu babi (Echonoidea) hanya dimanfaatkan sebagai makanan sehari-hari, sebagai makanan ternak, dan sebagai hewan pengganggu apabila racunnya terkena manusia.
  • Pada beberapa negara bulu babi (Echonoidea) dimanfaatkan secara ekonomis sebagai sumber makanan yang mengandung nilai protein tinggi pada gonadnya. Apabila hal ini terus berlanjut tanpa adanya upaya pelestarian dan pembudidayaan maka ekosistem laut akan terganggu.
  • Pada penelitian ini menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan pada lokasi dimana bulu babi (Echonoidea) ditemukan menggunakan petak tunggal ukuran 50x50m yang terdiri atas plot-plot berukuran 5x5m yang dibentangkan dari daerah surut terendah sampai ke arah laut.
  • Servei dilakukan dengan menguji dan mengukur faktor lingkungan seperti suhu, kecerahan, salinitas, pH, kedalaman dan substrat dasar perairan, phospat, nitrat, oksigen terlarut, BOD, dan karbondioksida bebas.
  • Identifikasi dan perhitungan sampel dilakukan di laboratorium Ekologi Perairan, Jurusan Biologi Fakutas MIPA Universitas Andalas.
  •  Hasil yang didapatkan adalah :
  •  1. Dari tiga lokasi penelitian (Pulau Cingkuak, Kabupaten Pesisir Selatan, Pulau Sikuai dan Pulau Setan, Kota Padang) didapatkan komposisi komunitas bulu babi (Echinoidea) menunjukan total individu bulu babi yang ditemukan di Pulau Cingkuak sebanyak 301 individu dari dua jenis bulu babi, yaitu: Echinotrix deadema (191 individu) lebih banyak dibandingan E. calamaris (110 individu).
  • 2. Kemudian di Pulau Sikuai total individu bulu babi ditemukan sebanyak 543 individu dari tujuh jenis, dimana Diadema setosum (345 individu) sebagai jenis yang terbanyak dan diikuti berturut-turut jenis Echinotrix deadema (114 individu), E. calamaris (60 individu), Diadema Antillarum (9 individu), D. savingii (6 individu), Echinometra mathaei (6 individu) dan Arbacia lixula (3 individu).
  • 3. Selanjutnya di Pulau Setan bulu babi dijumpai sebanyak 525 individu dari 5 jenis, dengan perincian sebagai berikut: D. Setosum (438 individu) merupakan jenis yang terbanyak serta D. antillarum (45 individu), E. deadema (18 individu), E. calamaris (15 individu) dan E. mathaei (9 individu).
  • 4. Secara umum jenis D. Setosum merupakan jenis yang terbanyak di temukan dilokasi penelitian (kecuali di Pulau Cingkuak karena tidak ditemukan). Banyaknya bulu babi jenis D. Setosum disebabkan pada lokasi penelitian banyak ditemukan turf alga, merupakan makanan yang digemari oleh bulu babi jenis ini.
  • 5. Dari ketiga lokasi ini menunjukan bahwa nilai indeks keanekaragaman Pulau Sikuai lebih tinggi dibandingkan dengan dua lokasi lain. Namun demikian, walaupun ada perbedaan dari harga nilai indek, ketiga lokasi ini masuk kedalam kategori keanekaragaman sedang. Hasil pengukuran kualitas perairan pada daerah studi di Pulau Cingkuak, Pulau Sikuai dan Pulau Setan masih dalam taraf toleransi hidup yang baik bagi bulu babi.
  •       Dari hasil penelitian tersebut dapat diprediksi bahwa walaupun dikatakan komunitas bulu babi dan keanekaragamannya masih dalam batas sedang, tidak menutup kemungkinan apabila tidak ada upaya pelestarian dan pembudidayaan akan terjadi kepunahan.
  •       Apabila terjadi kerusakan ekosistem laut yang dapat mengalami kematian (rusak) pada alga, turf alga dan corallìn alga akan membuat komunitas bulu babi dan keanekaragamannya menurun karena alga adalah sumber makanannya.
  •       Solusi agar bulu babi (Echonoidea) tidak punah dan keanekaragamannya tidak berkurang dibutuhkan pelestarian dan pembudidayaan, dibuatkan peraturan perundang-undangan yang melindungi keberadaan bulu babi (Echonoidea), memanfaatkan bulu babi (Echonoidea) dengan tepat guna, meningkatkan penelitian mengenai bulu babi (Echonoidea).

A. Kurnia. 2006. Meraup Yen dengan Merneithara Bulu Bahi. www. beritaiptek. Com/pilih berita. 3 Februari 2006.
A.C. Wardlaw. 1985. Pratical Statistics for Experimental Biologist. John Wiley & Sons LTD.
G.J. Bakkus. 1990. Quantitative Ecology and Marine Biology. A.A. Balkema/Rotherdam.
Nasril, M. 2005. Studi Kelimpahan Bulu (Echinoidea) di Perairan Pasumpahan Kota Padang, Sumatera Barat. Skripis Sarjana Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar